Proses Hierarki Analitik (AHP)

From Systems analysis Wiki
Jump to navigation Jump to search

Metode Analisis Hierarki (bahasa Inggris: Analytic Hierarchy Process, AHP) — adalah salah satu metode analisis multikriteria yang paling dikenal, yang dirancang untuk pemilihan, perangkingan, dan pembenaran keputusan berdasarkan preferensi subjektif dari pengambil keputusan (PK). Metode ini dikembangkan oleh T. Saaty dan mendapatkan penyebaran luas dalam masalah-masalah yang memerlukan pertimbangan berbagai kriteria yang sering kali saling bertentangan.

Esensi Metode

Metode Analisis Hierarki didasarkan pada dekomposisi masalah pemilihan yang kompleks dalam bentuk struktur hierarkis:

  • Tujuan — puncak hierarki (apa yang ingin dicapai).
  • Kriteria dan subkriteria — aspek-aspek yang digunakan sebagai dasar penilaian.
  • Alternatif — pilihan-pilihan yang menjadi bahan pertimbangan.

Setiap tingkat struktur dibandingkan secara berpasangan: PK menyatakan elemen mana dari dua elemen yang lebih disukai dibandingkan terhadap elemen pada tingkat yang lebih tinggi. Penilaian-penilaian tersebut membentuk matriks perbandingan berpasangan, dari mana bobot prioritas dihitung.

Tahapan Penerapan Metode

Metode Analisis Hierarki dilaksanakan dalam beberapa tahap yang berurutan dan saling terkait secara logis. Masing-masing tahap bertujuan untuk memperjelas preferensi PK dan membangun model hierarkis dari masalah pengambilan keputusan.

  1. Pembangunan hierarki: penguraian masalah menjadi tujuan, kriteria, subkriteria, dan alternatif.
  2. Perbandingan berpasangan elemen: dilakukan penilaian ahli atas preferensi (misalnya, seberapa jauh kriteria A lebih penting dari B pada skala 1 hingga 9).
  3. Penghitungan bobot lokal: dari matriks perbandingan diekstraksi bobot numerik yang mencerminkan signifikansi relatif elemen-elemen.
  4. Penilaian konsistensi: dihitung koefisien konsistensi untuk memastikan logika dan konsistensi preferensi PK.
  5. Agregasi bobot: penilaian akhir atas alternatif dihitung melalui rekonsiliasi di seluruh hierarki.

1. Pembangunan Struktur Hierarkis Masalah

Pada tahap ini, masalah diuraikan ke dalam tingkatan-tingkatan yang saling terkait secara logis:

  • Tingkat atas — tujuan umum pemilihan.
  • Tingkat menengah — kriteria dan, jika diperlukan, subkriteria yang lebih rendah.
  • Tingkat bawah — alternatif-alternatif solusi.

Tujuan pembangunan hierarki adalah untuk mencerminkan struktur logis preferensi PK dan menyiapkan landasan bagi perbandingan berpasangan.

2. Perbandingan Berpasangan Elemen pada Setiap Tingkat

Untuk setiap tingkat (dimulai dari kriteria terhadap tujuan dan seterusnya mengikuti hubungan menurun), PK melakukan perbandingan berpasangan elemen-elemen sehubungan dengan pengaruhnya terhadap elemen pada tingkat yang lebih tinggi. Perbandingan dilakukan menggunakan skala Saaty (dari 1 hingga 9), di mana:

  • 1 — kepentingan yang setara;
  • 3 — preferensi sedang;
  • 5 — preferensi kuat;
  • 7 — sangat kuat;
  • 9 — mutlak;
  • 2, 4, 6, 8 — nilai-nilai perantara.

Hasil-hasilnya dicatat dalam matriks perbandingan berpasangan.

3. Penghitungan Prioritas (Bobot) Lokal

Dari setiap matriks perbandingan berpasangan dihitung vektor bobot lokal yang mencerminkan signifikansi relatif elemen-elemen. Biasanya digunakan metode vektor eigen utama atau metode normalisasi pendekatan (rata-rata per baris). Untuk setiap elemen dihitung:

  • bobot lokal, yang menunjukkan signifikansi dalam kerangka matriks saat ini;
  • bobot global, yang diperoleh melalui perkalian dengan bobot elemen-elemen di tingkat atas.

4. Pemeriksaan Konsistensi Penilaian

Karena perbandingan bersifat subjektif, penilaian yang tidak konsisten dimungkinkan terjadi (misalnya, A > B, B > C, tetapi C > A). Metode AHP mencakup pemeriksaan konsistensi formal atas penilaian PK. Dihitung koefisien konsistensi (CI) dan indeks konsistensi (CR).

5. Agregasi Prioritas dan Perangkingan Alternatif

Setelah penghitungan bobot pada semua tingkat hierarki, dilakukan agregasi melalui hierarki — dari alternatif ke atas. Setiap alternatif mendapatkan bobot integral, yang dihitung sebagai jumlah tertimbang dari prioritas lokalnya berdasarkan setiap kriteria, dikalikan dengan bobot kriteria itu sendiri. Hasilnya adalah daftar alternatif yang diurutkan berdasarkan tingkat preferensi. Alternatif dengan prioritas integral tertinggi dianggap paling rasional dalam kerangka struktur masalah yang ditetapkan.

Keunggulan Metode

  • Kemudahan dalam penataan masalah yang kompleks;
  • Kemampuan bekerja dengan kriteria kualitatif dan kuantitatif;
  • Integrasi penilaian subjektif ke dalam prosedur yang ketat secara logis;
  • Penghitungan tingkat konsistensi pendapat (pemeriksaan keandalan);
  • Penerapan pada keputusan individual maupun kelompok.

Keterbatasan Metode

  • Meningkatnya kerumitan seiring bertambahnya jumlah kriteria dan alternatif (matriks perbandingan berpasangan tumbuh secara kuadratik);
  • Subjektivitas dalam mengekspresikan preferensi;
  • Kemungkinan distorsi akibat penilaian yang tidak konsisten;
  • Keterbatasan agregasi linier pada preferensi nonlinier yang kompleks.