Pengambilan Keputusan

From Systems analysis Wiki
Jump to navigation Jump to search

Pengambilan keputusan — adalah proses pemilihan satu atau beberapa alternatif yang paling disukai dari sekumpulan kemungkinan yang ada, yang ditujukan untuk menyelesaikan situasi bermasalah dengan mempertimbangkan tujuan, batasan, dan kondisi yang telah ditetapkan.

Proses pengambilan keputusan mengandaikan adanya:

  • perumusan masalah yang diformalkan maupun intuitif;
  • sekumpulan alternatif (pilihan tindakan atau solusi);
  • kriteria penilaian terhadap alternatif-alternatif;
  • faktor-faktor yang memberlakukan batasan (fisik, ekonomi, teknis, sosial, dan lain-lain);
  • subjek pemilih — individu maupun kolektif, yang memiliki wewenang dan tanggung jawab atas hasilnya.

Metode Formal Pengambilan Keputusan

Metode formal pengambilan keputusan dapat berguna dalam kasus-kasus berikut:

  • terdapat suatu masalah atau situasi bermasalah yang memerlukan penyelesaian. Seringkali hasil yang diinginkan diidentikkan dengan satu atau beberapa tujuan yang harus dicapai dalam menyelesaikan situasi bermasalah tersebut;
  • terdapat beberapa alternatif solusi atas masalah, cara mencapai tujuan, tindakan, atau objek, di antara mana pilihan dibuat. Alternatif-alternatif ini dalam teori pengambilan keputusan biasanya disebut alternatif. Apabila hanya ada satu kemungkinan dan tidak ada pilihan, maka tidak ada pula tugas pengambilan keputusan;
  • terdapat faktor-faktor yang memberlakukan batasan tertentu pada cara-cara yang mungkin untuk menyelesaikan masalah dan mencapai tujuan. Faktor-faktor ini ditentukan oleh konteks masalah yang sedang diselesaikan dan dapat memiliki berbagai sifat: fisik, teknis, ekonomi, sosial, personal, dan lainnya;
  • terdapat seseorang atau sekelompok orang yang berkepentingan dengan penyelesaian masalah, memiliki wewenang untuk memilih alternatif solusi tertentu, dan bertanggung jawab atas pelaksanaan keputusan yang diambil.

Skema Tipikal Proses Pengambilan Keputusan

Siklus hidup penyelesaian masalah terdiri dari beberapa tahap dan merupakan prosedur iteratif bertahap-ganda.

1. Munculnya Kebutuhan Pengambilan Keputusan

Kebutuhan pengambilan keputusan muncul ketika situasi bermasalah timbul. Dalam hal ini dilakukan identifikasi masalah, yaitu diberikan deskripsi substantif tentang masalah, ditentukan hasil yang diinginkan dari penyelesaiannya, serta dinilai batasan-batasan yang ada.

2. Perumusan Tugas Pengambilan Keputusan

Pada tahap berikutnya dilakukan formulasi tugas. Untuk itu diperlukan penentuan keseluruhan alternatif solusi yang mungkin. Bergantung pada kompleksitas masalah, jumlahnya dapat bervariasi dari beberapa hingga ratusan atau bahkan ribuan. Secara teoretis, himpunan alternatif dapat tak terbatas.

Untuk mendeskripsikan semua alternatif, biasanya diperlukan pengumpulan dan analisis informasi yang berkaitan dengan masalah dan cara-cara penyelesaiannya. Ketiadaan data yang diperlukan dapat membuat masalah menjadi tidak dapat diselesaikan, sehingga menimbulkan keharusan untuk kembali ke tahap-tahap sebelumnya atau meninjau ulang formulasi masalah itu sendiri.

Dalam situasi yang kompleks, mungkin diperlukan pembuatan model khusus (paling sering bersifat matematis), yang memungkinkan penyederhanaan dan formalisasi masalah guna menemukan solusinya.

Perlu dicatat bahwa deskripsi masalah yang jelas pada tahap pertama dapat sangat memengaruhi langkah-langkah berikutnya, dan dalam beberapa kasus — langsung mengarah pada perumusan formal tugas tanpa melalui tahap-tahap perantara.

3. Pencarian dan Pemilihan Solusi

Pada tahap ini:

  • dipilih metode solusi dari yang sudah dikenal atau dikembangkan metode baru;
  • dilakukan analisis terhadap alternatif-alternatif yang mungkin;
  • dilakukan penilaian dan pemilihan alternatif terbaik.

Kadang-kadang tahap ini tidak menimbulkan kesulitan, namun pada umumnya bersifat padat karya dan memerlukan partisipasi para ahli serta penggunaan perangkat komputasi.

Namun bahkan setelah semua prosedur dilakukan, tidak selalu berhasil memilih solusi akhir. Ada kemungkinan terjadi situasi ketika:

  • alternatif yang dibutuhkan tidak tersedia;
  • solusi ternyata tidak stabil;
  • diperlukan peninjauan ulang model atau pengumpulan ulang data.

Dalam kasus-kasus ini dimungkinkan:

  • kembali ke peninjauan ulang perumusan tugas;
  • modifikasi model;
  • perubahan komposisi alternatif (perluasan atau penyempitan himpunan);
  • pembangkitan alternatif-alternatif baru.

Bahkan tanpa adanya solusi, tahap ini dapat mengarah pada pemahaman yang lebih mendalam tentang masalah dan identifikasi aspek-aspek baru yang sebelumnya tidak diperhitungkan.

4. Pelaksanaan dan Penyelesaian Siklus Hidup

Apabila alternatif yang dapat diterima telah ditemukan, dimulailah tahap pelaksanaan keputusan, yang meliputi:

  • implementasi keputusan yang telah diambil;
  • pengendalian proses implementasi;
  • penilaian hasil.

Meskipun pelaksanaan secara formal tidak termasuk dalam prosedur pengambilan keputusan, namun hal ini penting dari sudut pandang metodologis dan praktis. Tahap ini:

  • menyelesaikan siklus hidup situasi bermasalah;
  • dapat memunculkan masalah baru yang memerlukan penyelesaian berikutnya.

Masalah Pengambilan Keputusan

Masalah pengambilan keputusan — muncul dalam kasus-kasus ketika suatu masalah (tugas) menjadi begitu rumit sehingga untuk merumuskannya (menetapkannya) tidak dapat segera diterapkan perangkat formalisasi yang sesuai, ketika proses perumusan tugas memerlukan partisipasi para ahli dari berbagai bidang ilmu.

Hal ini mengakibatkan perumusan tugas menjadi sebuah masalah tersendiri, yang untuk penyelesaiannya perlu dikembangkan pendekatan, teknik, dan metode khusus. Dalam kasus seperti ini muncul kebutuhan untuk menentukan area masalah pengambilan keputusan (situasi bermasalah); mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi penyelesaiannya; memilih teknik dan metode yang memungkinkan perumusan atau penetapan tugas sedemikian rupa sehingga solusinya dapat diterima.

Dengan demikian, untuk mengambil keputusan perlu diperoleh ekspresi yang menghubungkan tujuan dengan sarana pencapaiannya, dengan bantuan kriteria penilaian ketercapaian tujuan dan penilaian sarana yang diperkenalkan. Ekspresi-ekspresi semacam itu dalam berbagai bidang terapan yang berkembang secara paralel mendapat berbagai nama: kriteria fungsi; kriteria atau indikator efektivitas, fungsi tujuan atau kriteria, fungsi sasaran, dan sebagainya.